Mau tidak mau, suka tidak suka…sebagai seorang kepala keluarga dituntut untuk serba bisa (idealnya). Awal-awal menempati kontrakan yang baru kira-kira bulan Oktober 2011 sudah dipusingkan dengan bocornya bak mandi kami. Kebocoran tersebut sepertinya membuat tagihan air kami cukup besar. Segera respon pertama setelah cek dan ricek adalah menghubungi ibu yang punya kontrakan. Kemudian setelah lapor ke beliau, beberapa hari kemudian datanglah tukang suruhan bu kontrakan. Dipoles-poles, digosok-gosok pake kape, sebuah adonan berwarna putih. Berharap setelahnya masalah telah selesai diatasi, pada akhirnya tetap lagi. Seakan-akan air tidak mau lebih tinggi dari 1/3 bagian. Akhirnya panggil lagi si tukang, dipoles lagi…digosok-gosok lagi. Entah karena kurang lama membiarkan polesan kering atau apa, setelah diisi bocor lagi. Sudahlah, saya menyerah untuk panggil lagi si tukang, tekor kalau gitu.
Beberapa hari lalu, omelan istri tumben nyangkut di kepala. Mengingatkan kembali tentang bak yang bocor, padahal saya berusaha untuk cuek. Daripada panggil orang mending kerjain sendiri. Pertama-tama yang saya lakukan tentunya googling, cara mengatasi bak mandi yang bocor pada nat keramik. Akhirnya sekilas paham-paham dikit lah. Yang kedua tentunya belanja bahan-bahan, maunya beli kape, semen putih dan silasec sebagai perekat. Namun apa boleh buat toko bangunannya ga paham silasec, tapi kemudian dikasih penggantinya yakni lem putih (kira-kira cocok ga), coba dulu deh. Akhirnya senin malam kemarin, mulai menggosok, memoles, sampai kinclong (sampai rata maksudnya). Semoga nanti malam ujicoba bak mandi hasil polesanku berhasil. :pray.